Leather Indonesia Blognews

blog untuk pengembangan industri kulit dan informasi produk kulit di Indonesia

Mohon Maaf

Segenap staf dan pengelola Leather Indonesia Blognews mengucapkan selamat menunaikan ibadah Puasa Ramadhan dan Idul Fitri 1431 H.
Blog ini masih dalam pembenahan sehingga ada keterlambatan dalam merespon pembaca.
Salam
Lespik Media

Hadapi China, Pengrajin Kulit Sidoarjo Inovasi Model

SIDOARJO – Masuknya produk-produk dari China, seiring diberlakukannya free trade area (FTA) ASEAN-China atau perdagangan bebas 2010, membuat perajin kulit di Sidoarjo ketar-ketir. Apalagi, produk-produk dari Negara Tirai Bambu yang kini membanjiri pasar Indonesia harganya lebih murah dan kualitasnya tidak kalah bersaing.Pelaku industri di Indonesia, bisa dikatakan belum siap bertarung dalam perdagangan bebas. Namun, kondisi saat ini memaksa mereka untuk memutar otak agar produk-produknya tetap laris manis di pasaran.
Contohnya, perajin kulit berupa tas dan sepatu di kawasan Tanggulangin dan wilayah Sidoarjo lainnya. Meski belum banyak produk sepatu dan tas dari China yang masuk ke Sidoarjo, namun harus diantisipasi sedini mungkin.

Lalu, apa yang dilakukan pengusaha kecil bidang tas dan sepatu ini untuk “melawan” serangan produk sejenis dari China agar tidak sampai gulung tikar?

“Kalau kondisi saat ini berbeda dengan saat Indoensia dilanda krisis Ekonomi. Kini produk dari China mulai membanjiri pasar Indonesia,” ujar pengusaha tas dan sepatu kulit dari Desa Kemangsen, Kecamatan Krian, M Shokib, di Sidoarjo, Kamis (14/1/2010).

Saat krisis ekonomi, lanjut Shokib, daya beli masyarakat memang turun. Sehingga, pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM), masih berharap kondisi perekonomian pulih dan produknya bisa dijual.

Bedanya dengan saat ini, produk banyak dan daya beli masyarakat juga masih tinggi. Namun, mereka bisa memilih harga yang lebih murah dan kualitasnya sama dengan produk yang harganya lebih mahal.

“Salah satu upaya yang bisa kita lakukan adalah, inovasi pada model. Sehingga masih bisa menarik konsumen meski harganya lebih mahal. Kalau kita membuat produk sama dengan produk China, akan kalah pada pembiayaan,” ujar pengusaha terbilang sukses ini.

Kekhawatiran serupa juga diungkapkan, Syaifuddin, perajin tas dan sepatu asal Tanggulangin. Saat ini dia memutar otak dengan membuat produk yang harganya murah tapi biaya produksi bisa ditekan.

Dia menambahkan, saat ini mungkin pengaruh produk dari China belum seberapa terasa. Namun, beberapa bulan ke depan setelah produk China sudah lebih mem-booming di Indonesia, perajin baru merasakan dampaknya.

Untuk itu, dia berharap agar perajin bisa tetap inovatif. Sehingga produknya bisa bersaing di pasaran. Karena jika IKM gulung tikar akan semakin banyak pengangguran.”Kalau usaha kami tutup, berapa karyawan yang akan di PHK,” ujar pengusaha yang mempunyai lebih dari 50 pegawai, termasuk pegawai binaan ini.

Baik Shokib maupun Saifuddin, mengaku selama ini mereka bisa memasarkan produknya dengan omset di atas Rp100 juta per bulannya. Selain menyuplai toko di Jawa, juga mengirim produknya ke luar Jawa, seperti Kalimantan, Sumatera, dan lainnya.

Saat krisis ekonomi 2008 lalu, omsetnya sempat turun drastis karena daya beli sangat rendah. Kini, mereka menghadapi problem yang tak kalah memprihatinkan, produk asing membanjiri pasar Indonesia. “Harusnya IKM berguguran, tanpa ada perlawanan,” begitulah kata Syaifuddin.

Mereka berharap, agar pemerintah ikut memikirkan bagaimana bisa membatasi produk dari luar negeri. Selain itu, bagaimana pemerintah bisa memberi pembinaan, agar IKM bisa eksis dengan mengemas produk yang bisa bersaing di pasaran.

Langkah-langkah ini diperlukan, meski dikatakan terlambat. Sebab, tanpa ada dukungan dari pemerintah dan kreatifitas dari pengusaha, IKM yang ada di Sidoarjo akan bertumbangan, seperti saat didera krisis ekonomi dan imbas semburan Lumpur Lapindo beberapa tahun lalu.

IKM juga minta support dari lembaga dagang di luar pemerintah seperti dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sidoarjo. Setidaknya, bisa memotivasi IKM yang ada di Kota Petis ini.

Ketua Kadin Sidoarjo, Imam Sugiri, mengaku selama ini kurang ada persiapan dari pemerintah untuk menghadapi AFTA. Sehingga, ketika diberlakukan, membuat IKM dan pengusaha kedodoran untuk menghadang produk asing, terutama dari China yang harganya lebih murah.

Meski demikian, IKM tidak boleh patah arang dan tetap harus optimis menghadapi serbuan produk asing. “Salah satu cara yang bisa dilakukan pengusaha, adalah dengan standarisasi produksi dan meningkatkan kualitas. Sehingga tidak kalah bersaing dengan produk asing,” ujarnya.

Selain itu, untuk membendung produk asing, perlu adanya keberpihakan pemerintah. Salah satu upaya yang bisa dilakukan dengan membuat kebijakan, barang masuk harus ada kualifiaksi. Salah satunya, produk yang masuk tidak boleh barang jadi.

“Sedangkan yang harus lebih ditanamkan adalah nasionalisme. Kita harus membeli produk dalam negeri. Hal ini cukup sulit, tapi harus dimulai. Karena kalau tidak, IKM yang merupakan saudara kita sendiri akan kehilangan mata pencaharian,” papar Imam Sugiri.

Kadin lanjut dia, akan melakukan kampanye “Sadar Konsumtif”. Yaitu dengan mengkampanyekan cinta produk dalam negeri ke mal-mal dan pasar tradisional. Sehingga, bisa menggugah masyarakat untuk memilih produk dalam negeri.
(Abdul Rouf/Koran SI/ade)

Okezone.com

Pengrajin kulit ikan ramaikan UKM Medan

MEDAN – Pengrajin kulit ikan yang berada di kawasan Jalan Teratai No.14 A Medan semakin menambah panjang deretan pengrajin UKM di Medan. Adapun “Rawigi Craft” yang telah lama berdiri ini menyediakan kerajinan dengan konsep hand made, yang selalu diserbu pencinta seni unik di Sumatera Utara untuk dijadikan cendramata ataupun hadiah. Berawal dari usaha kecil- kecilan dengan melakukan kerja sama dengan nelayan di Aceh untuk mendapatkan tambahan pasokan bahan baku, “Rawigi Craft” mulai menapaki dunia bisnis di Medan.

“Tambahan bahan baku berupa kulit ikan itu sangat diperlukan untuk meningkatkan produksi kerajinan, menyusul semakin meningkatnya permintaan, “kata pengrajin kulit ikan, Roma Girsang kepada Waspada Online.

Menurutnya, permintaan bukan hanya datang dari dalam negeri saja, melainkan dari pasar luar negeri seperti Malaysia dan Jepang. Bahan pembuat kerajinan “Rawigi Craft” ini sangat beragam, mulai dari kulit ikan nila, ikan tuna bahkan ikan hiu serta binatang reptil lainnya.

Menurut penuturan Iwa (27) salah seorang pembeli yang berhasil dimintai pendapatnya mengatakan, “Saya menyukai karena bentuknya unik dan jarang ditemukan di daerah lain, jadi saya mau koleksi aja,” paparnya.

“Dengan adanya tambahan pasokan bahan baku maka diharapkan pengrajin bisa memenuhi permintaan pasar,” tambah Iwa.

Roma juga sempat menambahkan, mengenai pendapatan serta izin penjualan tidak ada masalah yang berarti karena usahanya sudah mendapat izin dari Menteri Kelautan dan Perikanan untuk memproduksi kerajinan ini. Dan untuk keuntungan sendiri ditaksir mencapai Rp25 juta hingga Rp30 juta per bulan, meski pendapatan sempat menurun karena krisis ekonomi.

waspada.co.id