Leather Indonesia Blognews

blog untuk pengembangan industri kulit dan informasi produk kulit di Indonesia

Berbahaya, Penyamakan Kulit dengan Menggunakan Bahan Kimia

YOGYAKARTA – Di hampir setiap tahapan penyamakan kulit, proses tersebut selalu menggunakan bahan kimia berbahaya dan beracun, terlebih pada tahap pre-tanning dan tanning.

Bahan-bahan kimia yang digunakan disinyalir hanya 70% saja yang terikat pada kulit dan sisanya menjadi limbah, baik cair maupun padat. Bahan-bahan kimia tersebut menjadi buangan yang sangat potensial mencemari lingkungan karena sifatnya yang sangat kompleks dan sulit untuk penanganannya.

Di samping itu komponen kulit yang berupa limbah fleshing, trimming, spliting, shaving, dan buffing ataupun hasil hidrolisis selama proses pre-tanning akan segera membusuk dan menimbulkan gas dan bau yang menyengat bila tidak segera ditangani dengan baik.

Menurut Prof Dr Ir Suharjono Triatmojo MS, penanganan limbah itu memerlukan teknologi yang maju, peralatan yang mahal, dan sumber daya manusia berkualitas dengan biaya tinggi.

Penanganan limbah selama ini dinilainya tidak menyelesaikan masalah, hanya mengubah dari fase satu ke fase lainnya dan memindahkan dari suatu tempat ke tempat lainnya.
Perubahan Sikap ”Karena itu, para ahli kimia dan penyamakan kulit selalu berusaha untuk mencarikan pengganti bahan-bahan kimia yang berbahaya dan beracun ini dengan bahan yang lebih ramah lingkungan. Strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif dan terpadu yang diterapkan secara terus menerus pada proses produktif dan daur hidup produk dengan tujuan untuk mengurangi resiko terhadap manusia dan lingkungan. Hal itu dikenal sebagai produk bersih (cleaner production),” ungkapnya saat dikukuhkan sebagai guru besar Fakultas Peternakan UGM, baru-baru ini.

Penerapan produk bersih ini, lanjut dia, memerlukan perubahan sikap dan manajemen yang bertanggung jawab pada lingkungan serta evaluasi teknologi yang dipilih dan digunakan oleh suatu organisasi.

Pada proses industri, produksi bersih berarti meningkatkan efisiensi pemakaian bahan baku, energi, mencegah atau mengganti penggunaan bahan-bahan berbahaya dan beracun, mengurangi jumlah dan tingkat racun semua emisi dan limbah sebelum meninggalkan proses.

”Produk produksi bersih ini bertujuan untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan selama daur hidup produk, mulai dari pengambilan bahan baku sampai ke pembuangan akhir produk tersebut,” tandasnya di ruang Balai Senat UGM. (P12-70)

suaramerdeka.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: