Leather Indonesia Blognews

blog untuk pengembangan industri kulit dan informasi produk kulit di Indonesia

5 SEKTOR STRATEGIS MASIH BERDAYA SAING RENDAH

JAKARTA (bisnis.com): Meski dihadapkan pada situasi optimistis, kinerja lima sektor strategis sepanjang tahun ini ternyata masih berpotensi tumbuh negatif karena tak berdaya saing sehingga dibayangi penurunan pangsa pasar domestik.

Implementasi liberalisasi pasar Asean–China (ACFTA) yang membebaskan bea masuk 6.682 pos tarif produk industri manufaktur dan pemberian insentif ekspor (export VAT rebate) menyebabkan harga produk manufaktur China menjadi sangat kompetitif.

Sebaliknya, problem infrastruktur dan tingginya biaya produksi menyebabkan harga produk dari industri lokal lebih tinggi. Akibatnya, sejumlah pengusaha di lima sektor padat karya yang memiliki pangsa pasar lokal cukup besar mengkhawatirkan penjualan mereka di pasar domestik akan merosot tajam karena kalah bersaing dengan produk serupa dari China.

Kelima sektor strategis yang memiliki konsumsi lokal sangat besar itu adalah pertekstilan sebesar Rp78 triliun per tahun, besi dan baja (Rp40 triliun), alas kaki (Rp27 triliun), kimia hilir (Rp23 triliun), serta elektronik (Rp20 triliun).

Namun, pangsa pasar kelima sektor industri itu setiap tahun selalu terkikis secara konsisten menghadapi serbuan produk China baik yang masuk secara legal maupun ilegal. Apalagi, daya saing kelima sektor industri tersebut rerata belum mampu menghadapi produk China.

“Saya baru ketemu dengan empat pengusaha besar alas kaki. Mereka ditawari produk sepatu asal China yang masuk melalui berbagai pelabuhan di Sumatera. Satu kontainer tanpa dokumen all in hanya Rp35 juta. Kondisi seperti ini yang membuat industri kita tak bisa bersaing,” ujar Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko kepada bisnis.com.

Berdasarkan analisis RCA (Revealed Comparative Advantage) dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin), kelima sektor industri tersebut sebagian besar memiliki produk di ambang batas bawah (berdaya saing rendah) sekitar -3 hingga 0,03. Namun, hanya beberapa pos tarif yang memiliki ambang batas atas (berdaya saing tinggi) sekitar 3 hingga 7.

RCA merupakan salah satu alat ukur daya saing produk industri dari pergerakan ekspor dan impor, biaya produksi, distribusi yang dihitung dalam jangka waktu 5 tahun terakhir. (tw)

Yusuf  Waluyo Jati

Bisnis Indonesia.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: