Leather Indonesia Blognews

blog untuk pengembangan industri kulit dan informasi produk kulit di Indonesia

Industri Alas Kaki Siap Berkompetisi

JAKARTA – Industri alas kaki nasional optimistis masih mampu bersaing di pasar bebas.  Keyakinan itu disampaikan Menteri Perdagangan (Mendag) Mari Elka Pangestu saat bertemu dengan produsen sepatu Indonesia saat melakukan pertemuan dengan buyer New Balance di PT Panarub Dwikarya, Tangerang . “Produk alas kaki di tanah air bisa bersaing, karena lebih unggul dari sisi kualitas ketimbang produk sepatu Tiongkok,” kata Mari.         Dalam pertemuan tersebut, Mari menegaskan agar produsen menjaga kualitas produk. Sebab, kualitas menjadi tumpuan pelaku industri ketika menghadapi pasar bebas. “Saya yakin, produk alas kaki kita dapat bersaing dengan Tiongkok dan negara pengekspor lain.  Potensi pasar masih terbuka di era perdagangan bebas ini,” timpalnya. Mari pun menyebut sejumlah kawasan seperti Eropa dan Amerika Serikat (AS) merupakan pasar potensial untuk produk sepatu RI. “Karena itu, tingkatkanlah terus daya saing produk kita,” imbuhnya.

Mari menjelaskan, New  Balance pernah merelokasi pembeliannya di Jogjakarta dan kemudian keluar. Namun, karena daya saing produk RI membaik, pemilik merek asal Amerika itu kembali merelokasi pembelian alas kaki dan industri alas kaki, diantaranya di Tangerang.         Produksi alas kaki untuk New Balance sendiri dimulai pada Juni 2009 dengan kapasitas 50 pasang per bulan. Tapi saat ini sudah meningkat menjadi 270 ribu pasang per bulan. Hingga akhir tahun ini, rencananya produksi akan terus ditingkatkan menjadi 500 ribu pasang per bulan.

Dikatakan, bahwa  pangsa pasar alas kaki di AS mengalami peningkatan, setelah lima tahun terakhir menyusut (2004-2008). Nilai impor AS terhadap produk alas kaki Indonesia mencapai USD 404,4 juta dengan market share 2,07 persen. “Kenaikan pangsa pasar ini diharapkan bisa berdampak positif terhadap kinerja alas kaki nasional. Meski kecil, share tersebut telah menempatkan Indonesia di peringkat lima pemasok alas kaki AS setelah Brazil, Italia, Vietnam, dan Tiongkok,” terangnya.        Selain ekspor, kinerja investasi juga mulai memperlihatkan kemajuan. Alas kaki yang dianggap sebagai sunset industry oleh perbankan justru mulai dilirik oleh investor asing. Tahun lalu, kata Mari, ada sekitar 25 perusahaan sepatu asing yang menandatangani kontrak untuk berinvestasi di Indonesia. “Dari 25 tersebut, 10 perusahaan melakukan perluasan usaha dan 15 lainnya merupakan investor baru,” terangnya. Total investasi yang akan ditanamkan senilai USD 170 juta dengan kapasitas 287 juta pasang alas kaki.        Mendag juga mengatakan kalau pelaku industri alas kaki yang tadinya melakukan produksi di Tiongkok, saat ini sedang merencanakan merelokasi pabriknya ke Indonesia. “Soalnya upah buruh di RRT sudah tidak kompetitif karena biaya jaminan sosial dan asuransi kesehatan buruh meningkat,” ujarnya. (jan/bas)

Pontianak Post

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: